Waspada Cacing


Beberapa hari kemarin, seminggu lebih saya kembali menyemplak Jalitheng Pulsar 220 untuk transportasi pergi pulang kerja. Tuntutan jam kerja yang tidak tepat waktu, alias masuk lebih awal dan pulang lambat, membuat saya ragu menggunakan trasportasi publik. Maklum, waktu tempuh naik sepeda motor cenderung lebih cepat daripada naik angkutan umum. Baca lebih lanjut

Kelakar Purwojaya Malam


Bergegas kupacu sepeda motor bebek. Adik yang kubonceng berpegang erat. Stasiun kereta Purwokerto tujuan pasti. Jadwal keberangkatan Purwojaya malam makin dekat. Aku yang diantar.

Tak kupedulikan jari-jari roda yang patah 2 batang karena menahan benturan dengan aspal Banyumas yang bergelombang. Sebagian jalan di Jawa Tengan terkenal Buruk. Entahlah

Sampai stasiun, tergopoh kutebus selembar tiket bisnis dan masuk peron, Purwojaya Malam sudah menunggu.

Gerbong 3, kursi 12C. Tidak dekat dinding gerbong berarti.

Benar saja, nampak gadis berkerudung abu-abu di 12D. Baca lebih lanjut

Blazer Ungu dan Srigala Dahaga


Angkot orange itu berhenti. Sesosok perempuan berblazer ungu masuk. Yah pakaian terusan sampai dengkul berlengan cekak itu menjadi menarik untuk dilihat karena sang pemakai.

Dan saat si ungu duduk, munculah srigala-srigala lapar yang siap menerkam.
Naluri Srigala, yah tiap lelaki memiliki naluri itu. Memelihara srigala lapar yang hanya bisa dikekang oleh nurani dan kepantasan. Baca lebih lanjut

Dering 3310


“Thing-thung-thing-thung-thing”

HP monochrome itu bergetar.
“Halo, De, Mba disuruh pulang sama simbok”
Suara serak kakak perempuanku diseberang sana terdengar pasrah.
“Oh, ya Mbak. Itu lebih baik, biar ada yang urus, Mba, bisa istirahat di kampung”
Jawabku, meyakinkan.

20 tahun lebih berjibaku di metropolitan. Lelah jiwa raga itu pasti. Tanpa teman hidup yang berarti, teman adalah sekedar teman. Sesejati apapun teman, mereka hanya teman. Bukan saudara, apalagi belahan jiwa.

Hari, bulan berlalu. Saya beranggapan, mba, betah di kampung. Bersama simbok dan handai tolan.

Sakitnya tak kunjung baik. Angin malam seolah berbisik,
“De, mba duluan ya”.
Tak ada tangis, bahkan isak sekalipun. Bahkan saya lupa kapan kabar itu beredar. Bahakan pemakamannya saya juga lupa.

Hanya si monochrome Nokia 3310 warisan yang masih kerap berdering, nomor 08151623661, juga kuwarisi.
“Halo, Maba Rus ada?”
Tanya akrab dari seberang, Saat saya menjawab akan segera disambung, innalilahi…
Berulang, dan akhirnya dering itu berhenti, seiring rusaknya kartu atas namamu. Ingin kuhidupkan, demi kenangan, tapi KTPmu…

“De, kalo naik motor lewat pinggir kiri aja”.
Nasihatmu saat aku antar kau ke bilangan Taman Anggrek.

“De, pakai kawat gigi ya, biar rapi itu gigimu”.
Tentu saja aku tertawa tanda menolak, apa kata orang kampung ngeliat cah ndeso ini pakai kawat gigi.

Seiring gesekan roda besi Commuter Line Jatinegara – Bekasi kuberdoa. Semoga kau bahagia di sana. Diapit bidadara-bidadara surga. Amin

Tahun demi tahun berlalu. Umurku saat ini adalah umurmu saat engkau pergi tanpa pamit. Apakah nanti aku sempat pamit?(tri)

**************
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Nylekamin dan Nylekamid


Dua kata yang hanya saya kenal di desa kelahiran saya. #banyumasan
Nylekamin adalah ucapan untuk mengungkapkan rasa makanan yang enak. Sedang nylekamid adalah plesetan dari kata nylekamin dan biasanya untuk mengungkapkan makanan yang lebih dari enak, nikmat, bisa karena memang nikmat, bisa juga karena lapar.
Makanan layak, apapun, kalo lapar akan terasa enak. Nylekamin pokoken.(tri) Baca lebih lanjut

Usman Harun, Saya yang tidak paham Sejarah


image

Saya tersentak, malu tepatnya. Menyadari betapa ceteknya saya mengenal sejarah bangsa ini. Sejarah yang kukenal tak lebih dari pelajaran Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa (PSPB) saat sekolah dulu, selebihnya hanya sepintas lalu tanpa keseriusan memahami.
Isu manipulasi sejarah ikut andil menjadikan apatis untuk membaca sejarah pasca kemerdekaan. Bahkan saya baru tahu bahwa kata Irian Baca lebih lanjut

Kereta Dan Senja


image

Mentari tergelincir tanpa pelicin
Barat adalah peraduan pasti instruksi Ilahi
Barat adalah dimana kami menuju
Memulai hari yang makin pasti

Detik menit berlalu
Desingan rel berulang menderu
Kereta kami tak jua laju

Sesekali peluit penjaga menjerit
Tatkala lokomotif menjelang
Bukan untuk kami
Sekedar berlalu
Dan Sang penjaga kembali asik ke layar kecil di tangan
Mungkin menjawab mention dari peron yang kumal
Atau gurauan dari cat stasiun yang mengelupas
Melambai dan berguguran
Bak mlati yang kurang siram

Senja mulai menyapa
Kereta tak kunjung tiba
Panggilan Sendekala berkumandang
Perintah tuk sowan Sang Murbeng Dumadi

Tatkala bercak kekuningan muncul
Kami bersorak
Bak mentari terbit menyibak cakrawala senja
Tak perduli gemuruh memekakan telinga
Kami menghadang dan melompat

Dalam bordes yang pengap
Berdesak tuk sekedar berpijak
Di antara peluh tanda lelah
Senyum tawa tetap ada
Mengalahkan suramnya cat gerbong kereta
Menghapus aroma toilet yang semerbak
Menceriakan senja

Kami pulang

—————————
Stasiun Karawang yang kurang rapi, 05 Oktober 2014

**************
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.438 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: