Cikarang Barat Lewat Tengah Malam Siomay Habis


Bakda Maghrib langit Jakarta Utara memerah, sepertinya awan penuh titik hujan sedang turun bersiap menunaikan tugasnya menghijaukan rerumputan dan menghapus debu Jalanan. Mengobati dahaga segenap makhluq-Nya.
Benar saja, jelang Isya langit menangis. Bagai menitikan air duka atas manusia yang saling cerca di sosial media. Titiknya mendamaikan bagi saya. Menghapus nestapa karena angkara.
Seperti kemarin, malam ini pun saya berniat pulang ke Karawang (dari tempat kerja) ke rumah orang tua. Menapaki jalanan Jakarta-Bekasi-Karawang bersama pemudik merupakan hiburan tersendiri di ujung Ramadan 1435 H ini.
Lewat Isya hujan masih merintik. Saya menunggu reda, tidak nyaman rasanya jika perjalanan jauh (sekira 100km) dilalui dalam keadaan hujan. Apalagi malam ini diprediksi puncak arus mudik, yang pasti jalanan lebih padat dari hari kemarin.

image

Cikarang barat 26 juli 2014 lewat tengah malam

Pukul 22.30 setelah menyiapkan teh manis panas sebagai bekal perjalanan, saya bertolak meninggalkan Jakarta Utara. Kolak jatah takjil saya sangkutin di rear hugger, siapa tahu lapar di jalan, jadi tidak perlu repot mencari penjaja makanan.
Jalanan Jakarta malam ini, ramai tapi lancar. Tidak di temukan kepadatan lalin yang berarti.  Berbeda dengan sore kemarin. Jalanan berair, becek sepanjang jalan.
Jika kemarin saya mampir rumah di Bekasi, kali ini saya langsung menuju Karawang.
Saya berniat menghindari jalan Kali Malang, maka melewati kolong fly over Sumarrecon Bekasi, saya lurus melewati stasiun Bekasi (Bulan-bulan), belok kanan di Gor, untuk selanjutnya belok kiri menuju pintu masuk Terminal Bekasi.

image

Bulak Kapal, disinilah awal lalin tersendat. Depan Pasar Cibitung padat. Banyak pemudik memilih meminggirkan sepeda motor untuk istirahat meregangkan otot sejenak. Saya juga berniat sama, tapi mencari tempat yang nyaman. Paling tidak bisa duduk meluruskan kaki sembari menikmati teh panas bekal tadi serta ditemani bakwan Malang atau Siomay Bandung. Enggan dengan kolak yang menggantung di buntut Jalitheng.
Beberapa kali saya lihat penjaja makanan tersebut, tapi tempatnya kurang memadai, terlalu ramai.
Memasuki tanjakan Cikarang Barat, kepadatan lali makin parah. Sekilas saya lihat panci siomay yang khas, dibonceng sepeda motor, diparkir pinggir jalan, tanpa pikir panjang saya menepikan Jalitheng.

image

Kolak lewat tengah malam

Lepas helm, knee protektor dan glove. Samperin penjual siomay.
“Habis” kata abangnya. Lemes dah.
Terlanjur berhenti, saya keluarkan perbekalan, teh manis masih hangat, kolak yang tadi tidak saya hiraukan akhirnya ludes saya sikat.
Sampai tulisan ini saya posting, tanjakan Cikarang Barat masih padat meski mulai memudar. Mari lanjutkan perjalanan. Malam ini Karawang terasa jauh, tapi saya menikmatunya. Istirahatlah jika anda capai berkendar, jangan memaksa lekas sampai yang bis mengakibatkan badan sengsara.(tri)

Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

About these ads

Satu Tanggapan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.439 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: